Libur Telah Usai

IMG_0589

Dua minggu sebelum lebaran saya sudah libur kuliah untuk kemudian akan aktif dikampus kembali pada tanggal 16 juli untuk ujian tengah semester, libur yang panjang bukan? Meski sekarang sedang liburan panjang tetap dihantui dengan tugas yang banyak dari beberapa dosen yang menghendaki mahasiswanya untuk tetap belajar di kala hari libur.

Beberapa universitas di Jogja sudah melaksanakan ujian akhir semester, sehingga waktu libur mereka lebih panjang yaitu sampai bulan September. Sedangkan saya dan teman-teman masih dibebani fikiran tugas dan memikirkan ujian di saat hari libur seperti sekarang.

Saya hanya ingin bercerita bahwa saya memiliki dosen yang sangat “perhatian” dengan mahasiswanya, beliau adalah dosen ekonometerika, muda dan belum menikah. Saking perhatiannya, beliau ini hampir setiap hari mengingatkan mahasiswanya melalui group whatsapps untuk jangan lupa mengerjakan tugas, atau hanya sekedar bertanya apakah sudah selesai mengerjakan tugasnya atau belum karena sampai sekarang hanya ada satu mahasiswa yang berkonsultasi masalah tugas, selebihnya hanya menjadi silent reader.

Kala itu saya sedang bersantai dengan keluarga, berbincang-bincang ringan di ruang tamu. Hingga pesan dari dosen tersebut datang kembali di group whatsapps, dan saya baru menyadari bahwa libur yang sesungguhnya telah usai. Saya harus bergegas mengerjakan tugas yang begitu banyak dan menumpuk itu. Mengerjakan sembari berada dirumah tidak ada salahnya, walaupun memang terkendala sesuatu yaitu jaringan. Didesa saya jaringan yang paling bagus hanya telkomsel, itupun tidak semua ruangan dirumah saya dapat dijangkau.

Sekali lagi, libur telah usai. Saatnya mengejar ketertinggalan.

Iklan

Baca Novel?

 

image-11

Novel- semacam buku ajaib

Mengulas kembali masa-masa awal perkuliahan. Jika dihitung sudah sekitar dua tahun saya belajar di kota gudeg ini. Lalu kegiatan apa yang tidak pernah saya tinggalkan selama kuliah? Betul. Membaca novel. Dari mana novel yang saya baca berasal? 90% meminjam 10% membeli sendiri. Duh nggak modal banget ya!😁

Selama dua tahun ini saya membaca sebanyak 30 novel. Angka 30 bukanlah angka yang banyak karena saya menghabiskan waktu dua tahun, tetapi bukan pula angka yang sedikit. Novel tersebut berasal dari berbagai penulis dan genre. Paling sering saya meminjam buku dari Perpustakaan Yogyakarta, Graha Pustaka Utama dan perpustakaan di kampus. Saya selalu berpikir kalau tidak mempunyai buku bukan berarti menghalangi saya untuk membaca. Setidaknya kalau kita membaca buku dari pinjaman orang, orang yang meminjamkan akan mendapat pahala (yaa kannn).

Disini saya mencoba menguraikan 4 novel terbaik versi saya dari 30 novel yang saya baca dalam dua tahun ini. Berikut saya jabarkan:

1. Perahu Kertas – Dee

image-8

Sumber: Google

Inilah juaranya! Kalau boleh saya menilai, maka akan saya beri angka 90 dari angka 100 untuk kepuasan saya dalam membaca novel tersebut.

Novel ini mempunyai tokoh utama yang bernama Kugy dan Keenan. Endingnya pun tak terduga, pokoknya happy setelah membaca ini. Tertawa, terkejut, dan mengharukan semua bercampur aduk. Cerita dalam novel ini sarat akan kemisteriusan sebuah takdir namun tulisannya mudah dimengerti. Top deh mba Dee🤗

2. Tentang kamu – Tere Liye

image-9

Sumber: Google

Mana nih pasukan Tere Liye? 😂 Saya pernah ditanya oleh teman sesama penyuka novel. Katanya ‘aliran mu apa’ sontak saya bingung aliran apa memang ‘aliran sesat?’ Yang ternyata yang dimaksud adalah buku yang saya baca kebanyakan dari penulis mana. Sudah pasti saya menjawab Tere Liye😁. Walaupun memang buku dari beliau hanya beberapa yang saya baca tapi setidaknya dari 30 novel yang saya baca, novel beliaulah yang mendominasi bacaan saya.

Dan dari beberapa novel beliau yang saya baca yang paling menarik bagi saya adalah novel ‘Tentang Kamu’. Novel ini menceritakan tentang kisah Sri Ningsih dari Pulang Bungin. Saking teringat sekali dengan nama Pulau Bungin ini sampai-sampai Pulau tersebut saya jadikan judul tugas paper saya.

Novel ini disajikan dengan misterius. Dengan perlahan-lahan mengungkapkan perjalanan hidup Sri Ningsih. Bertolak belakang dengan judulnya. Orang lain termasuk saya jika melihat judulnya pasti akan berpikiran bila novel ini adalah novel dengan genre romansa, padahal bukan.

Bagi para penyuka Tere Liye acap kali mendapat cibiran dengan kata-kata “kok bacaanmu Tere Liye, sih, baper banget” Maksudnya para penyuka itu saya bukan orang lain😁 Namun saya menjamin bahwa yang berbicara seperti itu adalah dia yang belum pernah membaca karyanya.  Oke sekian opini saya untuk novel ‘Tentang Kamu’….

3. Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea – Asma Nadia

image-10

Sumber: Google

Bunda Asma selalu bisa menyampaikan kata-kata yang bagi saya ‘perempuan’ banget. Melalui novel ini saya menjadi mengerti betapa perjalanan bukanlah sesuatu yang mudah, selalu ada alasan dibalik itu.

Novel ini menceritakan kisah seorang gadis bernama Rania Timur Samudra seorang penulis. Gadis ini sering sekali pergi ke berbagai negara untuk menekuri nikmat Tuhan Yang Maha Esa.

Secara keseluruhan saya suka dengan cara penuturan Bunda Asma, walau seringkali saya harus membaca ulang beberapa kalimat demi menilik artinya karena Bunda Asma tidak secara lugas menyampaikan maksudnya, ini salah satu kelebihan Bunda Asma.

4. Pulang – Tere Liye

image-7

Sumber: Google

Tere Liye lagi Tere Liye lagi~ Beliau memang top deh. Saya sangat suka dengan caranya dalam bercerita, menyelipkan nasihat walau tidak terlalu dibumbui dengan agama. Ini yang menjadi salah satu kelebihan Tere Liye lagi sehingga banyak muda mudi yang menyukainya tanpa merasa digurui.

Novel ini menceritakan kisah Bujang yang menurut saya ajaib. Mengapa ajaib? Karena seperti tidak ada di dunia nyata😁 walaupun begitu toh saya tetap menikmatinya. Dibagian akhir cerita cukup membuat saya tegang dan terharu.

Sekian sedikit uraian dan opini saya dari empat novel terbaik versi saya. Mungkin berbeda denganmu, beda orang beda selera dan itu wajar. Lalu apakah membaca novel itu menguntungkan bagi saya? Saya bingung juga, tapi yang saya rasakan selama ini menguntungkan karena saya dapat melihat dunia luar tanpa melihatnya secara langsung di dunia nyata. Nilai-nilai kehidupan pun lebih cepat masuk jika dikemas dalam bentuk cerita. Akhir kata, saya sangat berterima kasih kepada para penulis yang mau membagikan pemikirannya yang sungguh mengesankan untuk saya.

Bagi kamu yang sudah sudi mengengok tulisan acak kadul ini bolehlah saya tahu apa novel terbaik versimu yang telah kamu baca?

ALLAH PASTI DENGAR

Gap year- satu tahun waktu yang cukup lama untuk menentukan langkah dalam memilih jalan hidup selanjutnya (dalam waktu satu tahun seseorang dapat melakukan hal luar biasa). Sayangnya aku tetap tidak mudah untuk memilih. Saat itu yang ku tahu hanyalah ingin menempuh pendidikan di kampus ber almamater kuning karung goni itu. Qodarullah, Allah berkehendak lain. Jikalau takdir adalah hasil pilihan-pilihan dalam hidup, barangkali usahaku kurang maksimal untuk duduk di bangku universitas tersebut. Bukankah hasil tidak mengkhianati proses? Lalu aku bercermin, sudah sejauh mana usahaku. Cerita ini adalah kisah dua tahun yang lalu.

Dulu, dua tahun lalu aku bingung ingin memilih jurusan apa saat kuliah nanti. Jurusan kedua yang kupilih tentunya, karena yang pertama sudah pasti aku akan memilih ekonomi.

Opsi kedua aku bimbang, di satu sisi aku ingin belajar keagamaan lebih mendalam. Oleh karena itu aku memilih sastra Arab saat itu. Namun orangtua ku menentang dengan keras.

Beliau berdua memang tidak menyetujui, maklum saja bahwa orang tua ingin anaknya bekerja menjadi pegawai pemerintahan dengan jurusan umum di perguruan tinggi. Dan karena sastra Arab sangat tidak umum menjadikan mereka menentang keras.

Saat itu yang harus aku lakukan adalah memutar otak dengan keras. Jika memang sastra Arab tidak aku dapatkan maka jalan yang aku tempuh haruslah aku berkuliah di tempat perguruan tinggi Islam. Saat itu yang kupikirkan adalah mendapat lingkungan yang Islami.

Betul saja, dulu aku tidak menyadarinya tetapi aku sadar sekarang bahwa Allah mendengar doaku. Saat ini aku berkuliah di fakultas ekonomi dan bisnis universitas Ahmad dahlan. Lingkungan kampus sangat mendukung dengan keinginanku.

Sungguh Allah Maha Mendengar. Dua tahun lalu pun aku menuliskan impian di sebuah kertas, salah satunya menjadi aktivis dakwah dikampus. MasyaAllah.. tanpa disadari pun sekarang sudah terwujud. Terkadang memang aku tidak menyadari, kekuatan sebuah impian dibarengi usaha dan doa pasti akan tercapai. Entah kapan tercapainya, Allah pasti mengabulkan itu saat kita sudah siap menerimanya. Allah yang Maha Tahu apakah kita sudah siap atau belum, sedangkan kita adalah hamba yang bodoh.

Tanpa disadari sesungguhnya Allah sudah banyak mengabulkan apa-apa yang kita inginkan dengan sungguh-sungguh. Walaupun bukan saat ini, tetapi yakin pasti Allah mengabulkan suatu saat nanti. Jikalau memang tidak terkabul bisa jadi memang sesuatu tersebut tidak baik bagi kita, dan Allah menggantinya dengan yang lebih baik. Sesuatu yang baik oleh kita bisa jadi tidak baik menurut Allah, Allah yang lebih tahu.

Biarlah tulisan ini untuk tempat mengingatkanku bahwa aku pernah ada dalam waktu itu- saat aku merasa bahwa hanya Dia satu-satunya tempatku memohon segala petunjuk dan Dia pula yang Maha menunjukkan ku jalan.

Terimakasih Juni

Hai 5 Juni, kita bertemu lagi. Dulu aku selalu memimpikan bagaimana hidupku diangka usiaku saat ini, ternyata sampai juga.. Terimakasih Juni ku.

Walau aku tahu hakikat bertambahnya usia adalah semakin berkurangnya jatah hidup. Namun lagi lagi aku bersyukur dapat merasakan indahnya hidup hingga saat ini.

Juni ku, kamu lah saksi perjumpaan ku dengan umur baru. Kamu yang paling awal mengucapkan beribu doa untukku, aku ingin meng-Aamiin-kan. Semoga Dia berkenan mengabulkannya.

Terimakasih Juni, saat ini aku sedang mengenang hidupku bersamamu, semoga banyak yang dapat aku rubah dari sikap burukku selama ini hingga menjumpai kau di tahun berikutnya dengan menjadi diriku yang lebih baik.

Bantu aku menjadi lebih baik, Juni.

Kuliah itu Susah, Tapi Masih Susah Perjuangan Orangtua Nguliahin Anaknya

Di semester ini adalah masa-masa dimana leyeh-leyeh itu tidak ada. Kaget, iya! Dari yang semester-semester sebelumnya hanya di guyur oleh teori-teori dan sekarang harus terjun bebas dalam dunia penelitian itu rasanyaaa … jadi pengen nikah aja daripada kuliah.. #hiks_pikiran_macam_apa_ini

Ini masih kuliah, belum kerja, belum ada tanggung jawab lebih saja sudah banyak mengeluh. Bayangkan keringat orangtua yang harus membiayai kuliah anaknya, ngga ngeluh tuh?

Hmm… lagi-lagi nasihat yang jleb banget untuk diri ini.

Aku boleh sedikit curhat? Jadi begini, situs WhatsApp saat ini seperti yang kita tahu sudah di fasilitasi fitur ‘status. Tapi kok apa hanya aku yang merasa fitur ini sangat merugikan anak bangsa, mungkin kelebihannya memang ada, tetapi kelemahannya juga banyak. Salah satunya, anak jaman sekarang suka banget ngeluh di fitur ini, terlebih dalam lingkungan ku adalah mahasiswa-mahasiswa yang kerjaannya mengeluh betapa susahnya kuliah, garap inilah, penelitian inilah, dan lain-lain. Aku mengerti benar betapa beratnya kuliah, tetapi itu semua tidak harus di pulbis, kan? Lha yang milih kuliah dulu siapa, kok harus orang lain yang menerima keluhan mu?

Jika oleh mu terasa berat anggap saja kuliah sebagai perantara mu berbakti dengan orangtua, sadar atau tidak, orangtua adalah motivator terbesar selama seorang anak kuliah. Di saat kita lelah dan dalam keadaan lain yang lebih payah, coba ingat orangtua, yakin deh langsung semangat lagi. Walaupun kuliah tidak semata-mata hanya untuk orangtua melainkan untuk pribadimu sendiri.

Allah tidak akan membebani hamba-Nya melebihi batas kemampuannya, yakini ini InsyaAllah jalan pikiran terbuka lebar..

Dari aku yang masih juga suka mengeluh

Tidak Semua Harus Sama

Tentang kebebasan yang digaungkan adalah dilema bagiku sebagai seorang perempuan. Lagi dan lagi, kesetaraan gender masih menjadi bahan yang “sexy” untuk dibicarakan. Wanita Indonesia adalah wanita dipersimpangan, maybe, menurut aku sejauh ini. Kita sebagai wanita Indonesia dihadapkan dengan perubahan zaman yang amat maju dan canggih, bandingkan dengan kehidupan ibu kita dahulu, hal apa yang didapat dengan keadaan serba terbatas?
Aku sebagai wanita Indonesia yang sarat akan budaya, mencoba dengan bangga menjalankan dan melestarikan ciri khas kaum wanita Indonesia yang lemah lembut namun harus cekatan. Aku sebagai wanita muslim mencoba menjalankan ajaran agamaku. Adalah sekarang aku sebagai gadis modern yang berani merealisasikan mimpi-mimpi dengan didukung oleh lingkungan.
Aku, kamu-kita, sebagai perempuan Indonesia dihadapkan dengan modernisasi yang berbenturan dengan agama dan budaya. Apakah mereka-kaum laki-laki kira mudah menyatukannya dengan utuh?
Aku berpendapat sebagai wanita merdeka, saat ini hampir sudah tidak ada lagi perbedaan kebebasan antara laki-laki dan perempuan. Potensi di dalam perempuan terkadang memiliki andil yang cukup besar dalam lingkungannya (lingkungan sekolah, organisasi maupun lingkungan kerja). Bahkan terkadang potensinya melebihi kaum laki-laki. Right?
Namun paham feminisme pun aku tidak sepenuhnya setuju. Laki-laki dengan perempuan sama saja, hanya berbeda jenis kelamin, menurut mereka. Bagaimana? Bukankah sebagai seorang muslim kita harus percaya bahwa laki-laki adalah imam dan perempuan adalah makmum. Sebagai wanita Indonesia pun aku rasa paham feminisme tidak bisa ditelan mentah, perempuan mempunyai kodrat sendiri namun tetap dengan segala keistimewaannya.
Paham feminism hadir dari mereka yang dahulunya menjatuhkan perempuan dengan sangat ironis. Perempuan hanyalah dianggap pabrik untuk memasak, dan beranak. Miris bukan?
Aku- wanita Indonesia yang berbudaya, muslim, yang hidup dizaman serba instan ini- hanya perlu dimuliakan tidak untuk diangkat ataupun dijunjung tinggi melebihi kaum pria.

 

 

Selesaikan tugasmu, ya?

Kamu-kita, pasti akan pulang. Pasti akan kembali ke tempat  yang Sang Rahman janjikan untuk para hamba beriman.

Namun, apakah di sana kita akan beristirahat dengan tenang atau kembali berjuang melawan siksaan, itu bergantung pada ikhtiar kita sekarang!

Untuk itu, selesaikam tugasmu, ya? Selesaikan dengan baik. Dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.

Biarkan. Biarkan peluh  membasahi seluruh badan. Airmata meluncur deras laksana hujan. Kaki dan tangan bergantian dalam melewati  medan juang.

Biarkan. Biarkan tubuhmu merasa lelah dalam perjuangan. Agar mereka kelak dapat bersuara lantang. Membelamu di hari persidangan.

Bairkan. Biarkan segalanya berjalan atas kehendak tuhan. Jangan lawan hati yang tak pernah ingin diam dalam perjuangan. Biarkan mereka menyelesaikan tugasnya, agar dapat segera pulang.

Dalam tenang.

Menjadi pemenang.

Dihari persidangan.

Selesaikan tugasmu,  ya. Kita istirahat nanti. Di tempat terindah yang kau tulis dalam deretan mimpi 🙂

 

 

­_tulisan dari kamu (bidadari tak bersayap)